Senin, 18 Januari 2010

Maaf Cinta..

 hemm
Matahari kini sembunyi di balik kelabu. Mungkin saat itu adalah senyum terakhirnya di waktu senja yang lalu. Dia, Sila. Seorang gadis yang kini sudah pergi jauh di surga sana. Cinta. Iya, cinta. Apa itu cinta? Satu kata yang sudah membuatnya hilang arah, hilang akal sampai akhirnya ia akhiri hidupnya.
Dalam gelap itu, dia mencari sepercik cinta yang telah pergi. Dia ingin menunggunya, tapi kini dia sudah terlalu jauh melangkah. Tak berani dia untuk sekedar memanggilnya. Dani, itulah pujaan hatinya. Di tataplah punggung yang kian menjauh pergi darinya. Sila hanya bisa mengusap air mata, tanpa bisa menghapus luka yang teramat dalam yang tercipta karenanya. Ia begitu mengagungkannya di atas segalanya. Begitu memuja cinta yang lama bersemayam dalam kalbunya. Dia  tak ingin menangis, karena dia mencoba untuk jadi wanita yang kuat, tak ingin dia berteriak,karena dia yakin teriak tak akan mengubah apapun yang telah terjadi.
“Seberapa jauh dia untuk ku peluk, saat inipun aku tak tahu. Seberapa jauh dia untuk kupandang, aku juga tak tahu. Yang kutahu kini dia pergi. Entah, kembali atau tidak. Aku tak pernah tahu..” kata Sila sambil tertunduk lesu. “Kenapa harus menangis La....." saut Dinda, teman kamar kosnya  memegang pundak Sila yang kian tak berdaya. “Karena hanya air mata yang aku punya din.. Aku tak lagi punya cinta untuk ku agungkan, tak lagi punya kasih untuk kubanggakan, aku hanya punya air mata yang bisa aku alirkan sepanjang sakitku yang semakin menjadi ini.." Dinda tak lagi berkata.. Hanya pelukan yang dia berikan pada Sila. “Hanya tangis yang tak kusadari yang membuatku tahu aku masih punya sahabat seperti dinda..” ujarnya dalam hati.
“aku kembali sepi meratapi diriku.. Semakin hari semakin kacau pikirku.... Apa salahku aku tak tahu... Dan apa dosaku aku tak mau tahu..” ungkap Sila sambil menghela napas. Yang dia ingin adalah Dani kembali. Kembali jadi miliknya lagi. Semua kenangan bersama Dani melintas dalam kasat matanya. Dan itu semua menyeretnya pada kenangan satu tahun lalu. “Ketika Dani, orang yang kucintai berada tepat di hadapanku, dengan sayu matanya, dengan pucat bibirnya.. Aku tak mengerti apa yang akan ia katakan. Dan akhirnya satu kalimat yang tak kuharapkan keluar dari bibir manisnya.”  “La.. Kita ga mungkin bareng lagi..” ucap Dani. jantungnya berdegup kencang. Sila tak mengerti. Dia yakin Dani bercanda dengan semua kata-katanya. “Kamu kalo becanda yang lucuan dikit dong..” Aku ga becanda La.. Aku ga cinta kamu lagi..” kata Dani. “Tuhaaan.. akankah sambaran petir telah mengenai dadaku.. Aku lemas.. Lunglai.. Tanpa suatu alasan Dani memutuskanku. Dan dengan mudahnya madu cinta  lima tahun ini berakhir hanya dengan ucapan aku tak lagi mencintaimu..” Ucap Sila. Sila hanya diam terpaku. Dan Dani meninggalkannya. Sampai sekarang,  sampai saat ini hatinya masih sakit. Dan dia takkan pernah memaafkan Dani apapun alasannya.

Tahun telah berganti. Tapi isi hatinya tetap terpaku pada kesakitan yang tak pernah samar oleh apapun. Sendiri ia meratap. Bahkan, Sila tak lagi punya naluri akan cinta yang datang...
Dinda   : “La.. ada yang mau ketemu kamu tuh..”


Sila       : “Sapa Din?”
Dinda   : “Kamu ke depan aja deh yaa..”

Sila beranjak menuju ruang tamu mungilnya. Dadanya sesak ketika dia tahu siapa yang ada di hadapannya. Ia  kembali sakit. Luka yang yang sekian lama ingin dia kubur kini kembali basah. Sila berbalik, tak ingin lukanya semakin sakit. Tapi..
Mbak Ayu        : “Lala! Tunggu!”

Sila berhenti tanpa menoleh.  Ia tahan agar air matanya tak mengalir.

Mbak Ayu        : “Aku mau bicara La..”
Sila                   : “Ga ada yang perlu di bicarain mbak. Dani udah ninggalin aku. Semua udah berakhir..”
Mbak Ayu        : “Ngga La, Dani ga pernah ninggalin kamu..”

Ruang itu menjadi sunyi, hanya jam yang berdetak. Angin berhembus seakan menghembuskan kehampaan.
Sila                   : “Mbak ga pernah tahu..”
Mbak Ayu        : “Bukan ga pernah tahu La.. Tapi ga pernah mau ngomong..”
Sila                   : “Udahlah mbak, semua uda berakhir. Aku ingin lupain Dani. Mbak pergi aja..”
Mbak Ayu        : ‘Mbak mohon La.. Sekali aja kamu ikut mbak. Semua akan terjawab La. Please..”

Air mata mbak Ayu semakin deras. Tak tega Sila menatapnya. Akhirnya ia menurut. Ia langkahkan kakinya yang berat itu, kemana akan berhenti ia tak tahu. Disusuri koridor-koridor bisu. Dia tetap berjalan. Dan akhirnya, ia berhenti dalam satu ruang yang hampa.
Dani tergeletak tak berdaya disana. Dia hanya diam membisu. “Ku genggam tangannya. Dia membuka mata. Dan bibirnya bergerak.” “Aku sayang kamu La..” Matanya kembali mengatup. Nafasnya berat. Dan kini ia tak lagi di dunia. Dan Sila tahu apa sebab Dani meninggalkannya. Kanker otak yang dideritanya, memisahkan mereka. Selamanya..


”Maafkan aku Dan.. Aku tak pernah tahu.. Tapi aku akan menyimpan cintamu..”

bismillah Ya Allah, cerpen ini buat penilaian bahasa indonesia besok :)) apal apal apal. smangat! :D

0 komentar:

Posting Komentar